Rangkaian aksara yang terdiri dari huruf-huruf lalu menjadi kata, menjelma kalimat dan yang tersusun itulah disebut kalam. Kalam demi kalam yang rapi dituliskan, yang bermakna, berarti dan berfaidah ini jamak disebut literasi.
Literasi termasuk dalam golongan bermartabat dan itu hak asasi setiap manusia. Oleh karena itu, pada setiap tanggal 8 September dilakukan peringatan sebagai penanda melawan buta aksara sebuah manifestasi dalam merayakan Hari Aksara Internasional (HAI).
HAI mengapa perlu diperingati? secara tidak langsung, peringatan ini juga dapat meningkatkan kesadaran kita sebagai warga bangsa dan dunia tentang pentingnya melek huruf.
Dalam praktik dan kilasan sejarah, peringatan Hari Aksara Internasional muncul setelah konferensi pemberantasan buta huruf di Timur Tengah, Tepatnya di Teheran, Iran. Konferensi ini berlangsung pada tanggal 8 sampai 19 September 1965.
Keberlangsungan konferensi itu menjadi penanda di satu tahun berikutnya, yakni tepat pada tanggal 8 September 1966 diputuskanlah sebagai Hari Aksara Internasional yang pertama.
Peringatan Hari Aksara Internasional lantas dilakukan setiap tahun sebagai wujud memajukan agenda keaksaraan di tingkat global, nasional hingga regional.
Meski begitu, masih terdapat berbagai tantangan di bidang aksara atau literasi, termasuk di Indonesia
Oleh karena itu, betapa penting bagi kita tahu dan memahami makna sejarah Hari Aksara Internasional, khususnya pada tanggal 8 September 2022 ini guna melawan buta huruf dengan meningkatkan kesadaran berliterasi dan melek huruf.
Peringatan Hari Aksara Internasional ini perlu terus dilakukan untuk menjaga kesadaran pentingnya melek huruf bagi setiap orang sehingga dapat terus memajukan agenda literasi menuju masyarakat yang bermartabat dan maslahat. Maju dan berdaya saing.
Dengan begitu, penting bagi masyarakat seluruh dunia untuk terus membawa nilai-nilai penting dari Hari Aksara Internasional ini.
Sejarah Hari Aksara Internasional
Sebagaimana disebutkan bahwa peringatan yang kerap pula disebut sebagai Hari Melek Huruf Internasional ini muncul sejak diadakannya konferensi tentang Pemberantasan Buta Huruf, di Teheran, Iran, pada tanggal 8-19 September 1965.
Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan komitmen dan mengajak seluruh masyarakat dunia untuk peduli terhadap penuntasan buta aksara.
Sejak penyelenggaraan Hari Aksara Internasional (HAI) pertama pada tahun 1966, peringatan terus dilakukan oleh semua negara dunia setiap tahun sebagai wujud memajukan agenda keaksaraan di tingkat global, nasional, regional hingga desa.
Di Indonesia Peringatan HAI dinahkodai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, (Kemendikbudristek). Mengutip portal resmi kemdikbud peringatan HAI 2021 mengangkat tajuk ‘Digital Literacy for Indonesia Recovery’ dalam peringatan Hari Aksara Internasional ke-56 2021.
(NU ONLINE)
(humas smaneska)
